Semoga Pikiran Yang Baik Datang Dari Segala Penjuru
Beranda > Berita > Baca Berita

  Berita Partai Demokrat

20 Jan 2012 - 01:06 WIB

Pasek Suardika: Demi Keselamatannya, Jangan-jangan Rosa Dipaksa Menyeret Anas

Jika pernyataan dan alat bukti tidak sesuai, lanjut Pasek, maka harus diperdalam juga kemungkinan adanya tekanan psikologis yang dialami Rosa ketika mendapatkan ancaman pada sidang-sidang sebelumnya terkait keselamatan dirinya dan keluarganya. Kalau tidak harus lebih diperdalam, pernyataan itu terkait rekayasa sebelumnya.

“Sebelumnya kan ada ancaman-ancaman yang konon dilakukan Nazaruddin terhadap dirinya. Itu harus diungkap juga, jangan-jangan apa yang diungkap sekarang oleh Rosa tidak lepas merupakan efek psikologi terhadap ancaman-ancaman yang diterimanya itu. Rosa dipaksa membersihkan peran Nazaruddin, dan mengkaitkan semuanya pada Anas Urbaningrum,” imbuhnya.

Terkait pernyataan Rosa bahwa apa yang dimaksudkan oleh dengan ‘Ketua Besar’ dan ‘Bos Besar’ seperti yang terekam dalam percakapan melalui BlackBerry Messenger dengan Wasekjen PD yang juga Anggota Komisi X, Angelina Sondakh, adalah Anas Urbaningrum dan Mirwan Amir, Pasek mengatakan, tidak ada kebiasaan di kader Partai Demokrat memanggil Anas Urbaningrum.

“Kebiasaan menyebut ‘Ketua Besar’ gak pernah ada di internal PD, kami menyebut Anas dengan ketum atau Anas saja, tidak ada menyebut ketua besar. Ini bentuk rekayasa dari Nazaruddin hanya untuk mengkapitalisasi media agar menarik. Kenapa gak disebut ketum saja, semua menyebut seperti itu,” tegasnya.

Selain itu menurutnya, Angelina Sondakh sendiri tidak pernah mengakui ada komunikasi itu melalui BBM itu. Komunikasi itu harus dibuktikan dahulu apakah benar ada atau tidak. Dirinya pun menjelaskan tidak sulit untuk merekayasa percakapan melalui BBM.

”Bisa saja Rosa membeli BB, dan memasukkan foto Angie, abis itu dibuat seolah Angie mengirimkan BBM kepada Rosa,” tegasnya.

Terakhir dirinya menegaskan langkah Nazaruddin sangat sistematis dan merupakan langkah untuk menghancurkan PD. Pihak-pihak yang ingin menghancurkan PD bekerjasama dengan Nazaruddin karena tahu bahwa untuk menghancurkan SBY tidak bisa secara langsung, karena rakyat pendukung SBY yang jumlahnya besar akan marah.

“Jadi dilakukan lah skenario menghancurkan orang-orang Demokrat. Pertama Anas, dan sekarang Andi Malarangeng, besok entah siapa lagi saya tidak tahu. Semua mau dibuat hancur citranya,” tegasnya.